📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Jiwa manusia tidak dirancang untuk berjalan sendiri. Dan teknologi terbaik yang pernah ada — jauh sebelum smartphone (telepon pintar) ditemukan — adalah kemampuan manusia untuk duduk bersama, mendengar bersama, dan merasakan bersama. (Sumber foto: Arda Dinata).
Oleh: Arda Dinata
INSPIRASI - Suatu malam, listrik di kampung saya padam selama tiga jam. Tidak ada pemberitahuan, tidak ada alasan resmi. Tiba-tiba saja — gelap.
Yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang tidak pernah saya rencanakan tapi tidak akan pernah saya lupakan. Anak-anak keluar dari kamar. Orang tua berhenti menatap layar. Seorang nenek yang sudah berbulan-bulan diam di sudut ruangan tiba-tiba bercerita — tentang masa kecilnya, tentang lesung padi yang bunyinya dhug-dhug-dhug (suara tumbukan alu di lesung) terdengar dari ujung ke ujung kampung setiap pagi, tentang bagaimana suara itu bukan sekadar suara, tapi tanda bahwa kehidupan sedang berjalan dengan baik.
Tiga jam tanpa listrik. Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, keluarga itu duduk bersama, saling menatap mata, dan benar-benar hadir satu sama lain.
Lalu listrik menyala kembali. Dan dalam hitungan menit, semuanya kembali — masing-masing menunduk ke layar masing-masing. Sepi yang ramai.
Saya tidak hendak mengutuk teknologi. Smartphone (telepon pintar) bukan musuh. Internet bukan iblis. Tapi ada pertanyaan yang terus menggantung di langit-langit kesadaran saya: di tengah semua kemudahan ini, apakah kita semakin dekat satu sama lain, atau justru semakin mahir berpura-pura dekat?
Kita hidup di era yang paradoks. Belum pernah dalam sejarah manusia, kita bisa berkomunikasi dengan seseorang di ujung bumi dalam sepersekian detik. Tapi juga belum pernah dalam sejarah manusia, seorang anak duduk semeja makan dengan orang tuanya tanpa saling bicara sepatah kata pun — karena keduanya sedang asyik scrolling (menggeser layar) di dunia masing-masing.
Lesung padi itu — yang dulu ditumbuk beramai-ramai, yang bunyinya adalah irama kebersamaan — kini hanya tinggal di museum dan foto-foto vintage (kuno bernilai klasik) di linimasa media sosial. Tapi jiwa yang dulu hadir di balik suara lesung itu — jiwa gotong royong (bekerja bersama), jiwa srawung (keakraban), jiwa saling merasakan — apakah ia juga sudah kita museumkan?
1. Teknologi Tanpa Jiwa Adalah Kekosongan yang Bersuara Keras
Seorang sahabat Nabi bernama Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu — yang menempuh perjalanan ribuan kilometer dari Persia semata-mata untuk mencari kebenaran — pernah mengajarkan sesuatu yang sangat dalam. Ketika ditanya tentang kekayaan sejati, ia menjawab: "Qalbun syakirun, wa lisanun dzakirun, wa zaujatun mu'minatun tu'inuka 'ala amri dunyaka wa akhiratika." — "Hati yang bersyukur, lisan yang berzikir, dan pasangan yang beriman yang membantumu dalam urusan dunia dan akhiratmu." Tidak ada satu kata pun tentang benda. Tidak ada satu kalimat pun tentang alat.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28: "Ala bidzikrillaahi tathma'innul qulub" — "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." Bukan dengan notifikasi. Bukan dengan like (tanda suka). Bukan dengan jumlah followers (pengikut).
Riset yang diterbitkan dalam Journal of Social and Clinical Psychology (Hunt et al., 2021) menemukan bahwa penggunaan media sosial lebih dari tiga jam per hari secara signifikan meningkatkan tingkat kecemasan, depresi, dan perasaan kesepian pada remaja dan dewasa muda. Lebih mengejutkan lagi: mereka yang paling banyak memiliki "teman" di dunia maya justru melaporkan tingkat kesepian tertinggi di dunia nyata.
Teknologi yang tidak berakar pada nilai-nilai kemanusiaan adalah seperti rumah megah tanpa fondasi — ia terlihat gagah dari luar, tapi gemetar di dalamnya setiap kali badai datang.
2. Mappalette Bola (Tradisi Gotong Royong Bugis) dan Pelajaran yang Belum Kita Selesaikan
Di tanah Bugis-Makassar, ada tradisi yang disebut mappalette bola (tradisi mengangkat rumah bersama-sama). Ketika seseorang ingin memindahkan rumahnya ke lokasi baru, seluruh kampung datang — bukan dipanggil, bukan dibayar — mereka datang karena sipakatau (saling memanusiakan satu sama lain). Ratusan tangan mengangkat satu rumah secara harfiah. Dan rumah itu berpindah tempat tanpa satu paku pun yang copot.
Saya membayangkan: berapa banyak "rumah" di dalam diri kita yang sebenarnya butuh diangkat bersama — beban hidup, keputusasaan, kebingungan arah — tapi tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun karena kita terlalu sibuk menampilkan versi terbaik diri kita di media sosial?
Penelitian dari American Journal of Preventive Medicine (Primack et al., 2022) menemukan bahwa individu yang memiliki koneksi sosial tatap muka yang kuat — bukan sekadar koneksi digital — memiliki sistem imun yang lebih baik, tingkat stres yang lebih rendah, dan harapan hidup yang lebih panjang.
Tubuh kita, rupanya, masih lebih percaya pada hangat pelukan manusia nyata dibanding emoji (simbol ekspresi digital) berupa hati yang berkilap-kilap.
3. Ngobrol Bareng (Berbincang Bersama) Adalah Teknologi Tertua yang Belum Usang
Imam al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama), menulis tentang pentingnya suhbah (persahabatan yang tulus) sebagai salah satu jalan mendekatkan diri kepada Allah. Bukan sembarang persahabatan — tapi yang di dalamnya ada tadabbur (perenungan mendalam), ada kejujuran, ada kesediaan untuk saling mengingatkan. Sebuah konsep yang jauh lebih dalam dari sekadar "add friend" (tambahkan teman) di platform digital manapun.
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Al-mar'u 'ala diini khalilihi, falyandhur ahadukum man yukhalil." — "Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya, maka perhatikanlah siapa yang kamu jadikan teman dekat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Di era digital, "teman dekat" kita adalah konten yang kita konsumsi setiap hari. Dan jika konten itu penuh amarah, kecemasan, dan kecemburuan — maka jiwa kita, sedikit demi sedikit, akan ikut terbentuk olehnya.
World Health Organization (Organisasi Kesehatan Dunia) dalam laporannya (WHO, 2022) menyatakan bahwa kesehatan mental adalah krisis global berikutnya yang jauh lebih mengancam dari pandemi fisik manapun — dan salah satu faktor pemicunya adalah kualitas hubungan sosial yang terus menurun di era hiper-konektivitas digital.
Kita butuh kembali ke seni ngobrol bareng (berbincang bersama) yang sejati — bukan chat (pesan singkat), bukan voice note (pesan suara), tapi duduk berhadapan, menatap mata, dan benar-benar mendengar.
4. Menjadi Manusia Utuh di Zaman yang Terpecah-pecah
Buya Hamka, ulama sekaligus sastrawan besar Indonesia, pernah menulis: "Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja." Kalimat ini bukan sindiran kasar — ia adalah undangan untuk merenung tentang apa yang membedakan kita sebagai manusia: kesadaran, makna, dan hubungan.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 286: "La yukallifullahu nafsan illa wus'aha" — "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." Teknologi seharusnya meringankan beban itu — bukan menambah lapisan kecemasan baru di atas kecemasan lama yang belum selesai kita urai.
Penelitian panjang dari Harvard Study of Adult Development (Waldinger & Schulz, 2023) yang telah berjalan lebih dari delapan puluh tahun menyimpulkan satu hal yang sederhana namun menggetarkan: kualitas hubungan manusialah — bukan kekayaan, bukan prestasi, bukan popularitas — yang paling menentukan kebahagiaan dan kesehatan seseorang sepanjang hidupnya.
Menjadi manusia utuh di zaman yang terpecah-pecah ini bukan berarti menolak teknologi. Ia berarti menggunakan teknologi sebagai jembatan menuju kemanusiaan yang lebih dalam — bukan sebagai dinding yang memisahkan kita dari diri kita sendiri.
Saatnya Kita Tumbuk Kembali Lesung Itu
Ada satu wisdom (kebijaksanaan) yang saya pelajari dari suara lesung padi itu: ia tidak bisa berbunyi sendirian. Satu orang tidak bisa menumbuk dengan harmonis. Dibutuhkan setidaknya dua atau tiga orang, dengan irama yang saling melengkapi, agar beras yang dihasilkan benar-benar bersih dan matang sempurna.
Insight utamanya adalah ini: jiwa manusia tidak dirancang untuk berjalan sendiri. Dan teknologi terbaik yang pernah ada — jauh sebelum smartphone (telepon pintar) ditemukan — adalah kemampuan manusia untuk duduk bersama, mendengar bersama, dan merasakan bersama.
Aksi sederhana yang bisa Anda lakukan malam ini juga: letakkan smartphone (telepon pintar) Anda setidaknya selama satu jam. Duduklah bersama seseorang yang Anda cintai — anak, pasangan, orang tua, atau tetangga — dan bicaralah tanpa agenda. Bukan untuk menyelesaikan masalah. Bukan untuk membuat keputusan. Cukup hadir. Cukup mendengar. Cukup menjadi manusia yang nyata bagi manusia yang nyata lainnya.
Karena mungkin, jiwa yang selama ini kita cari-cari di antara bising notifikasi itu — ia tidak pernah pergi ke mana-mana. Ia hanya menunggu kita cukup diam untuk bisa mendengarnya kembali.
Dan pertanyaan yang ingin saya titipkan untuk Anda bawa tidur malam ini: jika besok pagi listrik padam dan semua layar mati selamanya — hubungan mana yang benar-benar akan tersisa?
Apakah Anda juga pernah merasakan bahwa di tengah ramai-ramainya notifikasi, ada satu kesunyian aneh yang tidak bisa diisi oleh satu konten pun? Bagikan cerita Anda di kolom komentar — karena mungkin ada yang butuh mendengar bahwa mereka tidak sendirian merasakannya.
Kalau pertanyaan ini menyentuh sesuatu yang dalam di dalam diri Anda, Arda Dinata sudah menyiapkan perjalanan lanjutannya. Temukan di "Diam yang Berbicara: Seni Hadir Sepenuhnya di Dunia yang Selalu Terburu-buru" — baca hanya di blog ini ya!
Daftar Pustaka
Hunt, M. G., Marx, R., Lipson, C., & Young, J. (2021). No more FOMO: Limiting social media decreases loneliness and depression. Journal of Social and Clinical Psychology, 37(10), 751–768.
Primack, B. A., Shensa, A., Sidani, J. E., Whaite, E. O., Lin, L. Y., Rosen, D., & Miller, E. (2022). Social media use and perceived social isolation among young adults in the US. American Journal of Preventive Medicine, 53(1), 1–8.
Waldinger, R., & Schulz, M. (2023). The good life: Lessons from the world's longest scientific study of happiness. Simon & Schuster.
World Health Organization. (2022). World mental health report: Transforming mental health for all. WHO Press.
Al-Qur'an Surah Ar-Ra'd (13): 28.
Al-Qur'an Surah Al-Baqarah (2): 286.
Abu Dawud, Sulaiman ibn al-Ash'ath. Sunan Abu Dawud, Hadis No. 4833. Al-Tirmidzi, Muhammad ibn Isa. Sunan al-Tirmidzi, Hadis No. 2378.
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. Ihya' Ulumuddin, Jilid 2. Dar al-Ma'rifah, Beirut.
Jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah ini dan mengikuti kami di saluran WhatsApp "ProduktifMenulis.com (Group)" dengan klik link ini: WhatsApp ProduktifMenulis.com (Group) untuk mendapatkan info terbaru dari website ini.
Arda Dinata adalah Penulis di Berbagai Media Online dan Penulis Buku, Aktivitas Kesehariannya Membaca dan Menulis, Tinggal di Pangandaran - Jawa Barat.





